Cerita Kaidah Ushul Fiqih 2
Cerita Kaidah 2
الرضا بالشيء رضا بما يتولد منه
(Rela terhadap sesuatu, berarti rela terhadap konsekuensi apapun yang berkaitan dengannya)
Rizal adalah seorang pelajar MA di salah satu kota Malang. Ia terkenal siswa yang paling pintar di kelasnya namun sering terjebak dalam kerinduan yang terkadang mengganggu belajarnya. Sedangkan Lia adalah adik kelas Rizal di sekolah tersebut, dan Rizal menyukainya karena sikapnya yang lemah lembut, kecerdasannya dan juga parasnya yang cantik. Rizal sering menceritakan rasa sukanya ini pada teman akrabnya, Iqbal. Namun, di balik itu, Iqbal sebenarnya juga memiliki rasa yang sama pada Lia. Sehingga ketika Rizal bercerita tentang rasa cintanya, Iqbal pun hanya menanggapi dengan senyuman, tanpa memberitahu Rizal bahwa ia juga menyukainya.
Rizal mempunyai satu prinsip bahwa masa-masa Aliyah adalah masa memburu prestasi bukan memburu kenangan. Namun terkadang hatinya membantah pikirannya bahwa tak selamanya rasa itu harus diungkapkan sampai benar-benar waktunya mengungkapkan. Karena bisa jadi suatu saat nanti, Lia akan dimiliki seseorang yang lebih dulu mengungkapkan rasa cinta sekaligus meminangnya. Dalam perdebatan batin ini, pikirannya lah yang menang, sehingga ia belum berani mengungkapkan rasa cintanya.
Sedangkan Lia yang terkenal pendiam pun tahu bahwa Rizal menyukainya. Ia tahu dari gerak-gerik dan sikap Rizal ketika bertemu dengannya. Namun, sebenarnya ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Rizal, bahwa ia menyukainya. Sehingga kedua insan ini saling menunggu satu sama lain sampai waktu yang tak tentu. 2 tahun setelah lulus pun, tak ada kabar apapun dari kedua insan ini. Sampai tiba waktu dimana Rizal mendengar kabar bahwa Lia telah dipinang oleh seseorang, yaitu teman akrabnya sendiri, Iqbal. Lalu terjadilah komunikasi antara kedua orang ini;
Rizal : “Kawan, apa benar kamu telah meminang Lia?, dan sejak kapan kamu mencintainya?”
Iqbal : “Benar Rizal, sejak dulu saat kamu menceritakan tentang Lia, sebenarnya akupun juga memiliki rasa yang sama denganmu. Tetapi aku tidak bertindak apapun karena aku takut memecah persahabatan kita. Aku barusaja meminangnya dan dia berkata bahwa masih belum ada seseorang yang meminangnya, dia juga menerima pinanganku. Maafkan aku Rizal, aku tak begitu tahu bagaimana cara paling ampuh dalam menangani dunia rasa ini. Sehingga sampai saat ini aku berprinsip bahwa ungkapan cinta adalah hak semua orang.”
Rizal : “Benar, walaupun hati ini terasa sakit, tapi pernyataanmu benar bahwa ungkapan rasa cinta itu adalah hak semua orang, tak terkcualikan. Mungkin ini adalah jalan terbaik bagi diriku dan dirimu. Aku pasti mengikhlaskannya, semoga lancar segala hajatmu itu. Aku hanya butuh waktu untuk melupakan segala rasa ini”
Iqbal : “Makasih kawan, apa engkau masih ingat kaidah fiqh yang diajarkan Pak Baidlowi yang berbunyi
الرضا بالشيء رضا بما يتولد منه
bahwa rela terhadap sesuatu berarti rela terhadap segala konsekuensi yang berkaitan dengannya.
Rizal : “Benarrr…..Aku masih ingat itu, aku mencoba mulai merelakannya, jadi aku juga merelakan apapun yang berkaitan dengannya, karena ia sekarang bukan bagian dari diriku lagi.
Waktu demi waktu, akhirnya Rizal mampu melupakan segala rasa ini yang telah ia rasakan sejak waktu Aliyah...dan tamatlah ceritanya wkwkw...
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar