Dracula, manusia bengis yang nyata adanya

Mendengar nama Dracula, sepertinya banyak diantara kita tertuju pada seorang vampir, penghisap darah manusia. Itu tidak lain hanyalah cerita fiksi. Dracula adalah seorang manusia keturunan bangsawan, anak dari Vlad II Voivode, seorang gubernur Wallachia, Romania. Wallachia pada saat itu, tunduk pada kerajaan Turki Utsmani atau lebih dikenal dengan Turki Ottoman, karena berada dalam kekuasaannya. Saat itu, Turki Utsmani dipimpin oleh Sultan Murad II. 

Saat masih berumur 13 tahun, Dracula bersama adiknya (Radu Cel Frumos) pernah dikirim untuk disekolahkan di Turki Utsmani. Di sana, ia dilatih tentang kemiliteran Jenissari, yaitu satuan militer pasukan khusus milik Utsmani, dan juga kesatuan militer terbaik pada saat itu. 

Di umur yang masih sangat belia, Dracula telah memiliki prinsip anti Islam. Ia sebelumnya telah disumpah dalam Ordo Naga untuk memerangi Islam, dan itulah niatnya sejak awal. Ia benci semua hal yang berkaitan dengan Islam, bahkan pada ayahnya juga karena telah tunduk pada Islam. Beda halnya dengan adiknya, Radu, ia menjadi muslim bahkan menjadi panglima kepercayaan pasukan Jenissari di masa pemerintahan Sultan Muhammad Al-Fatih, yang biasa dikenal dengan sebutan Mehmed II. 

Pada saat Vlad II dibunuh oleh John Hunyad dari kekaisaran Hungaria, Sultan Murad II membebaskan Wallachia dari cengkramannya. Setelah berhasil membebaskan Wallachia, beliau menyuruh Dracula / Vlad III untuk mengganti jabatan ayahnya di sana. 

Pada masa kepemimpinan Mehmed II setelah menaklukkan kota Konstantinopel, beliau mengirim beberapa utusan pada Dracula untuk menagih jizyah (pajak tahunan yang wajib dibayar bagi non muslim). Tak disangka-sangka, Dracula membunuh dan membantai semua utusan itu, sehingga menimbulkan keseriusan Mehmed II untuk menuntaskan masalah ini. 

Mehmed pun mengirim 1000 pasukannya untuk memeriksa kestabilan Wallachia. Namun, dengan seni militer yang telah Dracula pelajari bertahun-tahun di Utsmani, ia tahu persis gaya dan taktik serangan militer muslim, sehingga 1000 pasukan itu mampu ia kalahkan. Tak puas dengan itu, ia bahkan menyula mereka (menusuk kayu/tombak mulai dari kemaluan sampai kerongkongan). Wallachia dipenuhi mayat-mayat muslim dampak kekejaman Dracula.  Sungguh bengis dan kejam sekali. Kejadian itulah yang menyebabkan ia dijuluki "the impaler" yang artinya sang penyula. Kekejamannya telah diakui dunia. 

Namun, untuk kedua kalinya, Mehmed II tak pandang remeh dan lebih serius mengatasi masalah ini. Ia menunjuk Radu, yang tak lain adalah adik Dracula sendiri untuk memimpin pasukan sekitar 9000 untuk menyerang Dracula. Butuh singa untuk mengalahkan singa. Sultan Mehmed menunjuknya sebagai panglima tak lain karena dia paham betul mengenai daerahnya sendiri, Wallachia. 

Dengan kejeniusan Radu dan bala tentaranya, ia dapat menaklukkan pasukan Dracula. Sedang Dracula sendiri dapat melarikan diri dan berlindung pada raja Hungaria. Pada akhirnya, Dracula pun mati di tangan pasukan Utsmani. 


Komentar